Benarkah Smartphone Menjadi Kebutuhan Utama Generasi Milenial ?

generasi milenial menjadikan smartphone kebutuhan utama nya

Bertanya PR? Menggunakan smartphone. Bertamu? Menghubungi lewat smartphone. Menyebarkan pengumuman penting? Pun menggunakan smartphone. Bahkan diskusi dan membeli alat tulis pun menggunakan smartphone.itulah pemandangan sehari-hari yang tidak asing lagi saat ini.

Dahulu, jangankan smartphone atau gadget jenis lainnya, menggunakan layanan warung telepon (wartel) atau telepon umum pun hanya jika ada sesuatu yang sangat penting dan harus disampaikan kepada sanak keluarga atau teman yang berada sangat jauh. Orang-orang yang memiliki handphone pribadi pun dapat dihitung jumlahnya, karena pada saat itu harganya masih tergolong mahal. Teknologi berkembang begitu cepat, tidak hanya menghubungi sanak keluarga, membaca surat kabar pun dapat dilakukan hanya dengan sentuhan jari. Seperti yang dirasakan generasi milenial saat ini, generasi yang memang born digital, ketika lahir sudah tersedia semua teknologi yang akan ikut mempengaruhi gaya hidupnya.

Kembali ke poin awal, benarkah smartphone menjadi kebutuhan penting bagi para generasi milenial?

Pada dasarnya, kebutuhan primer manusia terbagi menjadi 3, yakni sandang, pangan, dan papan. Sedangkan kebutuhan sekunder, mengikuti profesi dan aktifitas apa yang dilakukan sehari-hari. Seorang siswa tentu membutuhkan alat tulis sebagai kebutuhan sekunder. Seorang guru membutuhkan materi ajar sebagai kebutuhan sekunder. Dan tidak dapat dipungkiri, smartphone sudah menjadi kebutuhan sekunder bagi para pelajar saat ini. PR bahkan kegiatan sekolah update melalui informasi yang disebarkan ke smartphone masing-masing, yang mana akan muncul dampak positif maupun negatif.

Dampak positif, siswa tidak perlu jauh-jauh berkumpul di rumah temannya untuk mengerjakan tugas kelompok, mereka dapat mendiskusikannya secara online sehingga lebih menghemat waktu dan biaya. Penyebaran informasi juga sangat cepat. Dan juga mempermudah tugas yang diberikan, karena smartphone memiliki fitur search engine untuk mencari sumber-sumber terkait.

Dampak negatif, banyak siswa yang terlena dengan kecanggihan smartphone miliknya. Terlalu asik bermain game online, sibuk dengan update kegiatan di akun media sosial, sehingga kesadaran akan hal yang terjadi di lingkungan sekitar menjadi berkurang, misalnya pada saat berkumpul dengan keluarga pun masih tetap sibuk dengan smartphone-nya.

Alangkah baiknya jika menjadi bagian dari generasi milenial yang dapat menggunakan teknologi dengan sebaik mungkin. Tetap menggunakan smartphone untuk kelancaran tugas dan kegiatan sekolah, namun tetap peduli terhadap lingkungan sekitarnya, khususnya keluarga. (Windy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *