Mari Ketahui Lebih Jauh Tentang E-LifeStyle

Mengenal E-Lifestyle

Kata lifestyle memang sudah tidak asing lagi, akan dengan mudah ditemukan di sebuah tulisan, terutama di dalam sebuah berita, atau kategori pembahasan dalam sebuah situs.

Lifestyle atau gaya hidup awalnya merupakan istilah yang digunakan oleh seorang psikolog Alfred Adler, yang mana berarti cara hidup seseorang, kelompok, atau suatu budaya dengan ciri khas khusus tertentu. Sedangkan dalam kamus Oxford, lifestyle berarti cara hidup dan cara seseorang atau kelompok dalam kehidupan sehari-hari atau bekerja. Istilah ini juga sering didiskusikan dala bidang ilu sosiologi, terkait pandangan seseorang dan identitasnya dan berhubungan dengan kesehatan, lingkungan, dan teknologi. Dalam definisi yang lebih detail, lifestyle adalah cara hidup individu, keluarga, dan masyarakat yang mempengaruhi fisik, psikis, sosial, dan ekonomi.

Lalu apa itu e-Lifestyle? Istilah e-Lifestyle atau electronic lifestyle merupakan hasil dari perkembangan teknologi dan informasi. Teknologi berupa alat elektronik saat ini banyak digunakan untuk mempermudah kegiatan sehari-hari. Suatu alat disebut alat elektronik (electronic device) ketika alat tersebut membutuhkan aliran elektron dalam pengoperasiannya.

Mulai dari kegiatan rumah tangga, seperti memasak menggunakan rice cooker, menghubungi keluarga menggunakan telepon rumah atau seluler, menggunakan televisi sebagai sumber berita atau hiburan, menggunakan freezer sebagai pendingin dan penyimpan makanan minuman agar lebih awet, dan lain sebagainya. Kegiatan kantor, seperti menggunakan komputer untuk membuat laporan, menggunakan proyektor untuk mempermudah presentasi pada saat rapat, menggunakan alat deteksi sidik jari untuk mempermudah absensi karyawan, dan lain sebagainya.

Sayangnya, sebenarnya tidak semua orang ingin menggunakan segala bentuk alat elektronik dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa orang terpaksa menggunakannnya karena tuntutan lingkungan sekitar. Contohnya di lingkungan sekolah, ketika semua kegiatan diinformasikan lewat media sosial, yang mana hanya dapat diakses menggunakan alat elektronik, mau tidak mau ia pun harus menggunakan alat tersebut, atau akan tertinggal informasi.

Sebenarnya, teknologi bukanlah tolak ukur majunya suatu bangsa atau peradaban. Semakin besar perkembangan teknologi, maka semakin besar pula masalah yang akan dihadapi. Contohnya, membeli barang melalui situs online, jika tidak cermat dalam memilh toko yang terpercaya, maka akan berdampak buruk pada diri sendiri. (Windy)

Sumber:

Amerian, Mohammad et al,. E-lifestyle in EFL Course books: Case study of Top Notch Series. 2014. Iran: Semnan University. doi: 10.1016/j.sbspro.2014.03.411

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *