Pentingnya Kesehatan Sosial dan Emosi Pada Anak Part II

Lanjutan pada artikel sebelumnya tentang 2 poin yang sangat mempengaruhi kesehatan sosial dan emosi pada anak, yakni hubungan kepercayaan dan sistem mengajar yang diterapkan kepada anak.

Membangun hubungan saling percaya, hasilnya dapat dilihat dari aksi yang dilakukan anak, khususnya kepada guru di sekolah. Anak yang sudah percaya terhadap gurunya, tentu lebih berani untuk bertanya, mempelajari hal-hal baru, atau bahkan dengan mudahnya mengekspresikan perasaan mereka.

Lalu bagaimana untuk mendapat kepercayaan tersebut?

Pertama, menunjukkan perhatian dalam rupa perasaan. Misalnya, ketika bertemu seorang anak, tidak ada salahnya menyapanya terlebih dahulu, selamat pagi, selamat siang, atau selamat malam ketika bertemu di luar jam sekolah. Dapat juga berupa perhatian yang lebih dekat, seperti jabat tangan atau pelukan.

Kedua, menghargai dan peduli terhadap semua anak, sehingga mereka lebih percaya diri. Misalnya, dengan mendengarkan apa yang dikatakan sang anak dan merespon kalimat tersebut dengan positif. Ya, siapa pun orangnya, dalam batas usia berapa pun, jika kalimat yang diucapkan didengarkan dan direspon dengan baik tentu akan berdampak baik pula. Namun, jika tidak didengarkan atau direspon dengan kalimat yang kurang menyenangkan, kepercayaan diri dan keberaniannya untuk menyampaikan ide, perasaan, atau cerita sederhana akan menurun.

Ketiga, menghabiskan waktu dengan kegiatan berkualitas. Guru dituntut untuk lebih peka terhadap keadaan sekitar. Misalnya, tidak semua anak mudah untuk mendapatkan teman, sehingga ketika salah seorang merasa sendirian, tidak ada salahnya untuk ikut bermain bersama.

Sistem mengajar yang diterapkan, merupakan poin kedua yang mempengaruhi kesehatan sosial dan emosi anak.

Pertama, menggunakan buku anak yang berkaitan dengan emosi dan kehidupan sosial, contohnya tolong-menolong, gotong royong, yang dapat diambil dari kisah teladan cerita rakyat atau buku panduan belajar (biasanya memang terdapat cerita pendek dalam buku ajar).

Kedua, perencanaan aktifitas selanjutnya setelah membaca buku cerita. Aktifitas tersebut dapat berkaitan dengan cerita yang disampaikan, salah satunya bernyanyi, menggambar karakter tokoh, dan lain-lain.

Terakhir, apakah poin yang sangat penting dari 2 cara tersebut? Sabar. Ya, karena tidak semua anak merespon hal yang sama terhadap cara-cara di atas. (Windy)

Sumber: Apa.org

 

Baca Juga: Benarkah Generasi Milenial Menjadikan Smartphone jadi kebutuhan utama mereka ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *